Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar. Terima Kasih ^_^


widgeo.net

Jumat, 22 Agustus 2014

Sosokmu MAMA

MAMA, begitu aku menyebutnya. Sosok wanita yang sangat luar biasa dalam tumbuh kembangku sampai saat ini di usiaku yang sudah menginjak tahun ke 22 dan akan selalu menjadi inspiring women disetiap langkah kehidupanku. 

Yah, siapalah aku tanpanya? Tanpa belaian tangannya. Tanpa suapan tangan halusnya. Tanpa keringat ketulusannya mendidik dan mengajarku. Tanpa doa-doa tulus yang mengalir di setiap sujudnya. Ah, aku bukan siapa-siapa tanpanya dan tentunya dengan izin-Na MAMA dihadirkan untuk membina anaknya ini. 

Ah, Siapalah aku? hanya seorang gadis yang sedang menjajaki diri dalam peralihan masa. dari remaja ke dewasa. Tapi, siapala aku. Gadis yang selalu membangkan. Gadis yang selalu murka di hadapannya. Gadis yang siap menghantam apapaun ketika marah. Gadis yang sering meninggikan suara di hadapannya. 

Tapi, percayalah Ma, ananda tak pernah bermaksud seperti itu. Katahuilah, ananda selalu menyesal ketika melakukan semua itu. Meski ananda tak pernah menunjukkannya. Ketahuilah, dalam setiap pembaringanku air mataku tak hentinya tumpah menyesali semuanya. Tapi, ananda tak mampu mengutarakan penyesalanku. Ananda tak berani dan mungkin malu memelukmu meski sekedar melepas rindu. 

Ma, Masih ingat umurku yang masih bocah itu?
Disana ananda selalu bermanja dipelukanmu. Tapi sekarang pernahkan terlintas dibenak mama sebuah pertanyaa "\Kenapa anakku tidak pernah lagi memelukku?" dan mungkin akan terus merangkai pertanyaa seperti "Apakah kamu bukan bocah mama dulu yang sering kali bercanda dipelukan mama?". 
Maaf ma, Ananda terlalu egois untuk mengakui kalau ananda ingin sekali memeluk mama. Ingin merangkul mama seperti dulu. 

Maafkan ananda. Tapi percayalah ananda sangat mencintaimu ma. Really do love You :* 
Rasanya malu meminta doamu, tapi ananda yakin naluri mu sebagai ibu tak pernah egois untuk memberi doa restu.
Ma, satu janjiku, ananda tak akan mengecewakanmu. Maaf ma, hanya itu yang bisa kujanjikan. Doamu selalu kunanti. Pun ananda akan mendoakan mama dan akan selalu tersematkan di setiap tengadah tanganku ke Maha Pencipta. 

Terima kasih Mama
Everything for You. 
                                                                                                      Tertanda,


                                                                                                   Ananda yang selalu mencitaimu

Senin, 16 Juni 2014

A beautiful Gift

Assalamualaikum fillah
Apa kabarmu hari ini? semoga selalu dalam lindungan Allah SWT.

Tak terasa 4 tahun berlalu, menempuh perjalanan yang cukup melelahkan menjadi seorang sarjana. Janjiku kepada kedua orang tua untuk meraih gelar sarjana akhirnya tercapai juga hari ini. Dengan hasil yang cukup memuaskan, ujian tutup yang satu minggu ini menganggu tidurku terlewatkan dengan lancar. Alhamdulillah....

Semua ini tak lepas dari dukungan kedua orang tuaku, keluarga dan semua teman-teman yang sudah membantu dan memberikan dukungan. Terima kasih ya Allah, kau telah menitipkan orang-orang baik seperti mereka. 

Dan, ini juga adalah kado terindah diumur baruku yang ke 22 tahun. Alhamdulillah, sarjanaku bisa kuraih diumur yang ke 22. HAMDALAH

Ma, Pa ini juga kado buat kalian yang tanpa lelah memberi dukungan penuh dan doa sepanjang malam. Ini yang bisa kupersembahkan untuk kubawa pulang ke hadapan kalian. Ini buah didikan kalian, ini hasil sujud kalian sepanjang malam, ini hasil kerja keras kalian. Aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah dewasa Ma, Pa. Sekarang giliranku untuk memberi baktiku kepada kalian dengan title baruku ini.
In sha Allah, semoga ini menjadi berkah dan akan berkah kedepannya.

Terima Kasih Tuhan untuk kado hari ini ^0^

Sabtu, 19 April 2014

Vocabulary (will be countinued)


keep your head : tenang
slow down a bit : santai dikit
lower your drink : konteksnya apa
don't stand too close : jgn berdiri terlalu dekat
love on the set : cinta lokasi
may you live happily in your new life : selamat menempuh hidup baru
Spit it out  : Say it more quickly! (katakan itu cepat!)
Wellborn : dari keluarga baik-baik
Money grubber : mata duitan
Deadlock : jalan buntu
Keep your finger crossed : tetaplah optimis
Price increase of oil fuel : kenaikan BBM
Birth certificate : akta kelahiran
Clothesline : tali jemuran
Marriage celebrant : penghulu nikah
Incapable : tidak becus
Out of work pay : gaji buta
Meet and greet : jumpa fans
Get rid of : menyingkirkan
Get out of : keluar dari
Take over : mengambil alih
Form into : membentu, mengubah
Come along : ikut serta
Smarty-pants : sok tahu
Instigate/provokate : memanas-manasi
Pins & needles : kesemutan
Desperate lover : pengemis cinta
Get carried away : terbawa perasaan
Wellborn : dari keluarga baik-baik
Street walk : gerak jalan
Military decadence call : baris-berbaris
Steady demain : Jalan ditempat





















Crying oh Crying

Oh crying, why do you come to me again??? you know I hate u very much when I have to fall u for unimportant things.

Dan lagi malam ini kau menghantui malamku sepanjang malam. Arrggggghhhhh, Bencciiiiiiii. kenapa aku jadi lemah seperti ini. I am not a girl weak. Noooooo, it isn't me.I hate this situation. Dumnnnn !!!

Berawal dari kejengkelanku pada dia. Saya hanya ingin ngobrol lama dengan dia malam itu. Tapi, sialnya dia pamit untuk tidur. alasanya kecapekan karena seharian harus kerja. Saya masih bisa menerima alasanya.
Iya, walaupun sedikit kecewa tapi saya juga harus bisa mengerti keadaan seperti ini karena saya tidak mau jadi orang egois. OK, saya bisa pahami. dan mulai saat itu saya berjanji tidak akan menghubunginya duluan. Sumpah, tidak enak banget. Saat mau ngobrol malah ditinggal tidur. Saya tidak akan sekecewa itu kalau dari awal dia bilang "Jangan dulu telpon karena saya mau istirahat". Pasti saya tidak akan menghubunginya dan tidak akan kecewa seperti ini.

Keesokan malamnya, saya menepati janji saya. Tidak berniat lagi menghubunginya.
saya pikir dia butuh istirahat , jadi saya pun hanya membalas smsnya seadanya saja. Hanya menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat. Harapan saya dia bisa cepat istirahat, saya tidak mau menganggu waktu istirahatnya dengan meladeni sms panjang saya. Tapi yang terjadi apa.... dia malah mau nonton bola.
Bukan bolanya kupermasalahkan..... tapi kenapa dia tidak punya waktu untuk ngobrol dengan saya, sedangkan dia bisa begadang nonton bola. Alasan capek?? Ah, sama saja. kegiatan sama saja setiap hari.
iyya, capek kalau ngobrol dengan saya , tapi capeknya bisa hilang kalau nonton bola. Duuummmnnnnnnnnnnnnn !!!!
Oh, I cry all night.
Terima kasih 'tears'. Tuhan selalu mengirimmu disaat saya butuh pelampiasan.

Selasa, 15 April 2014

up up up....

Hari ini adalah  yang kesekian kalinya skripsiku mendarat di atas meja pembimbingku dan sialnya sang pengoreksi memasang muka jenuh alias bad mood. Alhasil skripsku kena damprat. Entahlah ini kesalahanku atau memang yadda...yadda...yadda

Kesalahan fatal yang pernah kulakukan adalah membuat kesalahan pada penulisan namanya. Yaaa... ampun, saya langsung gugup dan tidak bisa berkata apa lagi kecuali kata maaf ketika beliau memasang muka murka melihat namanya saya ubah sedemikian rupa. Dan mulai hari itu saya sudah merasa tidak punya muka lagi di mata beliau. Tapi, sudahlah.... telanjuuuuur. Pikirku sangat sia-sia kalau saya mundur begitu saja, biarlah beliau memandangku sebagai mahasiswa tidak punya etika, lalot dan pembangkan. Saya akan tetap menghormati beliau.

Tapi, kalau boleh jujur... saya sudah lelah. kalau bukan orang tua, mungkin saya sudah banting stir (mahasiswa menjadi.......)
Ya Tuhan, saya terlalu rapuh berhadapan dengan masalah ini. Takut,, dan terlalu takut.

Tapi satu hal yang saya tahu
Masalah bukan untuk ditakuti tapi untuk dihadapi

Saya sudah ada ditahap ini
Mundur bukan pilihan
Maju adalah pilihan terbaik
Teman-teman yang lain juga punya masalah seperti saya dan mungkin masalah mereka lebih berat. Tapi, senyum mereka tetap ada. Jadi go aheaddddd skrpisssiiiiii !!! You can can can can.......

Aku Muslimah?


Aku muslimah?
Pantaskah?
Ketika foto-foto terupload sombong dengan rambut terurai
Ketika busana kurang bahan terpasang angkuh di badan
Ketika jilbab dan kerudung tak lagi menjadi identitasku
Aku muslimah?
Masih pantaskah?
Ketika kami sibuk menimbun harta
Ketika kami sibuk nongkrong
Ketika kami sibuk bergunjing
Ketika kami sibuk menjelajahi mall, bioskop, karaoke
dan akhirnya lupa menemuiMu
Aku muslimah?
Masih pantaskah kusandang?
Ketika kami sibuk mencumbui malam
Terlena dengan bisikan subuh
Sibuk menjajah pagi
Aku muslimah?
Masih layak kah?
Ketika shalat kami ganti dengan jalan-jalan
Ketika mengaji kami ganti dengan bernyanyi
Ketika berdakwah kami ganti dengan mencari jabatan
Oh Tuhan,
Maaf kami terlalu sibuk
Maaf kami terlalu sombong menjadi muslimah
Aku masih bisa disebut muslimah?

Sabtu, 12 April 2014

Puisi

Puisi sekejapku kau beri nama sampah?
Lemparkan saja ke tongnya
Aku hanya ingin mengeja aksaraku
Mematahkan keraguan yang melilit tanganku

Campakkan sesuka hatimu
Aku hanya ingin bercerita tentang cinta dan rindu
sampai dengan kisah air mata
yang terkadang memelas kasihan

Tertawakan sesuka hatimu
Aku hanya ingin berkisah
tentang pengorbanan dan kesetiaan
Pun tentang perjalanan hati yang sering kau sebut penghianatan

Kau bebas beri nama sampah
Puisi yang lahir dari rahim seorang pecundang
Tapi,
Perlu kau ingat
Sampah yang kau sebut itu
Akan terlahir kembali dari tangan-tangan emas

Makassar, 12 April '14

Jumat, 11 April 2014

Teruntuk Kamu yang Punya Nama

Teruntuk Kamu yang Punya Nama_

Kamu yang punya nama itu?
Kamu jua yang tersulut emosi karena nama itu?
Dan kamu yang menghardik karena nama itu?
Oh maaf, salahku menamaimu seperti itu

Kamu tahu
Inginku tak ingin seperti itu
Inginku tak mau melupakan nama indahmu
Tapi kamu harus tahu jua
Aku hanyalah manusia
Bukan Tuhan maha sempurna

Aku tahu
Kamu sangat menghargai nama itu
Tapi tak selayaknya segusar itu
Kamu bisa memberitahuku lembut
Untuk menulis nama yang benar untuk kupahat

Oh maaf,
Untukmu yang punya nama itu
Tak sepantasnya aku menamaimu seperti itu
Seperti maumu
Aku tak akan menamaimu seperti itu

Untukmu yang punya nama itu
Kamu boleh melirikku di sini
Sampai kamu puas melampiaskan kesalahan itu

Untukmu yang punya nama itu
Terima kasih,
Karena tegurmu aku tahu betapa pentingnya sebuah nama

Makassar, April '14

Sabtu, 29 Maret 2014

Mahkota Tergadai



Mahkota Tergadai

Mahkota oh Mahkota
Lirih melihatmu terpajang tak bernilai
Sungguh kami sudah mempermainkan derajatmu

Di sana, di sini dan dimana-mana sampai di dunia lain
Yang tak lain adalah dunia para penjelajah maya
Kau terpajang anggun di depan para srigala
Terlihat mewah namun terlalu rendah untuk dinilai

Inilah dirimu
Mahkota tergadai
Berelok-elok disetiap para pemilikmu
Dihargai rendah terlalu murah

Mahkota Tergadai
Kami tidak tahu atau kami memang tak peduli
Bahwa kau seharusnya tak dimiliki semua orang
Kami terlalu sombong menjualmu murah
Memajangmu seperti wanita jalang

Kau lihat warnamu sudah mulai memudar oleh yang namanya trendi
Tubuhmu terbungkus oleh kain ketat
Dan kepalamu kau lilit dengan kain berputar-putar
Dan,
Pada akhirnya
Kau tergadai oleh para pemilikmu
Lupa kodratmu sebagai mahkota


Makassar, 29 Maret 2014

Sabtu, 22 Maret 2014

Malam Tak Berbulan

"Malam Tak Berbulan"

Singkirkan cahaya itu
Aku ingin malamku tunduk pada kegelapan
Biarpun dirimu memberi sebongkah nur
Aku tak izinkan tangan dustamu menodai malamku

Pergi dan ambil cahayamu
Biarkan malamku berteman dengan ratu kegelapan
Dia lebih jujur dari cahayamu

Kenapa?
Kau marah?
Sengaja aku simpan amarah itu dalam tenggorokanmu
Jangan takut, ratu kegelapan tak pernah
menyuruhku untuk menikammu

Biarkan aku dan dia menikmati malam kami
Menuntaskan rencana terdahulu
Melanjutkan cerita yang belum usai
Sambil meneguk secangkir bulan madu

Maaf,
Malamku menolak pintamu
Simpan cahayamu untuk mereka yang selalu meratap

Aku masih kuat dengan malamku
Biarkan aku tertidur bersamanya
Dan bangunkan nanti saat bulan menjemput malamnya

Makassar, 22 Maret 2014

Selasa, 07 Mei 2013

Gerimis


Seperti cerita pagi ini
Suara embun pagi bergelayutan mesra di ranting-ranting kehidupan
Rinai-rinai hujan luruh memeluk setia langkah insan manusia
Kuncup bunga mengecup manis kumbang yang tidur lelap dalam pembaringan
Usia bergerak pelan mematuhi aturannya
Menceritakan setiap alur kehidupan manusia

Gegap gempita suara bertalu dalam himpitan imaji
Samar namun bayangan itu smakin nyata
Berlari berkejaran dengan ego yang semakin membunuh
Kau hilang dalam canda ria khasmu
Termakan oleh gundah liar di luar sana

Mataku selalu memantau setiap gerikmu
Menyelami setiap jelaga suaramu
Lirikku ingin menyapa
Tapi enggan terhasut  iriku

Seruan  itu teramat kuat
Mengunci dalam kubangan tak terdamaikan
Sedikit langkah bijak yang bisa ku ambil
Menarik diriku dari garis terperih ini

Gerimis seakan berkhianat pada hujannya
Awan serempak kompak menutupi langit
Akupun menunduk pasrah
Bersandar setia pada setiap keputusan-Nya
Gerimispun menghiasi kelopak mataku

Minggu, 09 Desember 2012

Lihat Aku Sekali Lagi




Sunyi. Gelap. Bagaikan ruangan kosong kedap suara yang tak bercahaya. Lemah tubuh ini melawan kerasnya kehidupan yang harus kujalani. Semua terdiam. Membisu. Menutup telinga. Tak pernah menyentuhku. Seolah terasingkan dari keramaian dunia.  Tak pernah sekalipun aku merasakan keindahan taman. Harumnya bunga mawar. Tak ada yang bisa kurasakan. Tubuhku seperti mayat hidup. Rohku entah kemana melalangbuana.
Hanya ruangan berukuran 4 x 5 m yang menjadi saksi cerita pahitku. Dan seorang yang tidak kukenal rupanya seperti apa. Tapi, dari caranya menyentuhku aku yakin dia seorang perempuan. Setiap hari dia memandikan tubuhku. Menyisir rambutku. Menyuapiku. Entah siapalah dia. Sedikit harapan yang terbesit olehku. Masih ada yang mau berbagi denganku. Sedikit mengobati kesendirianku. Awalnya aku pikir dia wanita yang selalu mengajakku bermain di taman dulu. Awalnya aku pikir dia wanita yang selalu membelikan bunga mawar di setiap aku ulang tahun. Bukan. Bukan dia. Aku tahu bagaimana lembutnya tangannya ketika dia membelaiku. Aku tahu seperti apa aroma tubuhnya. Perempuan yang selalu keluar masuk kamarku tidak selembut tangannya dan aromanya pun berbeda. Dari situlah aku tahu kalau perempuan itu bukan Dia.
Tiga tahun yang lalu sebuah kecelakaan fatal menimpaku. Badanku yang kecil terjatuh dari lantai dua rumah. Waktu itu kakiku tergelincir waktu menuruni anak tangga dan tidak bisa menahan tubuhku, akhirnya aku jatuh dan “Praaaak”. Tidak sadarkan diri. Dari situlah awal semua penderitaanku. Dokter memvonis aku tidak bisa melihat, berbicara dan berjalan. Akibat benturan itu, urat-urat syarafku terputus dan mengakibatkan semua penyakit itu mampir di kehidupanku.
Wanita yang kukenal dulu lembut dan penuh kasih sayang berubah menjadi wanita yang tak peduli sama sekali seiring perubahan yang kualami. Mama jadi dingin. Sekalipun dia tidak pernah mencoba untuk masuk ke kamarku. Tidak pernah menyentuh tubuhku. Dan, mungkin tidak pernah menanyakan kabarku.
Dulu sebelum kejadian itu terjadi, mama sering mengajakku jalan-jalan ke taman setiap minggu. Memetik bunga mawar yang berjejeran di taman itu sampai-sampai penjaga taman mengejar-ngejar kami karena sebenarnya pengunjung taman dilarang mengambil apapun dari taman termasuk bunga mawar itu.
Teringat kembali dalam memoriku masa-masa indah itu yang sempat mati dalam kubangan nestapa. Ingin aku berlari-lari di taman itu. Tidak mungkin. Ini hanya mimpi. Semua kegalauan menyatu dalam heningnya malam itu.
Mama seolah-olah tidak mengenaliku dan tidak pernah menganggap keberadaanku. Fisikku yang berbeda dengan anak-anak normal lainnya mengubur semua mimpiku untuk selalu bersama mama dan membahagiakannya. Aku yang berbeda tidak mampu untuk berkata banyak. Keterbatasanku telah mengurungku. Rasanya ingin memberontak. Tidak adil pikirku. Takdir. Apakah ini yang disebut takdir?. Apakah ini jalan Tuhan untukku?. Apakah masih ada secuil doa yang bisa aku pinta? Jika iya, tolong pertemukan aku dengan mama yang dulu. Aku kangen dengan belaian mama Tuhan. Kangen dengan senyum mama. Kangen dengan sentuhan mama. Kangen dengan suara mama. Aku kangen dengan semua itu Tuhan. Apa yang harus kulakukan untuk memanggil mama kembali kepadaku.
###
            Pagi ini, perempuan yang selalu bolak balik ke kamarku mengantarkan sarapan. Dia membuka jendela. Aku tahu itu karena aku bisa merasakan hembusan angin pagi menyentuh badanku. Kuambil sebuah kertas yang sudah kuhapal dimana letakknya. Diikuti pulpen yang berada tidak jauh dari kertas itu. Meski aku tidak bisa melihat tapi aku masih bisa menulis. Entah tulisanku jelek atau tidak yang jelas tulisanku bisa di baca. Aku sudah tahu huruf-huruf alfabet sejak berumur tiga tahun. Jadi, aku sudah tahu bagaimana bentuk A B C dan seterusnya sampai huruf Z. “Mama mana”?. Kusodorkan kertas itu kepada perempuan itu. Beberapa detik perempuan itu membisu sampai akhirnya berkata “Nyonya sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali tadi”. Huft, jawaban yang sama selalu dia ucapkan ketika kupertanyakan ‘dimana mama’. Bosan dengan jawaban-jawaban itu. Kuambil kembali kertas itu “Mama tidak pernah menanyakan kabarku”?. Tanyaku lagi di atas kertas yang sama. Perempuan itu diam. Bukan beberapa detik. Tapi, beberapa menit. “Tadi pagi, nyonya sempat menanyakan kabar non”. Hanya mengangguk. Itulah reaksiku. Bukannya aku mengangguk karena percaya, tapi aku mengangguk karena lelah dengan kebohongan-kebohongan itu. Aku tahu kalau perempuan itu cuma berbohong. Dia tidak ingin melihat aku larut dalam kesedihan kalau aku tahu mama tidak pernah menanyakan perkembanganku.
            Pagi begitu lambat berlalu. Terasa lama bagiku. Hanya berbaring di tempat ini setiap hari. Bosan. Sakit kepala dan sebagainya. Suara-suara jangkrik itu membuyarkan lamunanku. Suara jangkrik menandakan malam sudah tiba. Begitulah caraku membedakan antara pagi dan malam. Meski kedengarannya konyol sih karena suara jangkrik bisa saja terdengar kalau pagi.
            Dari balik ruangan 4 x 5 itu, kudengar mama dan papa bertengkar hebat. Tak jelas apa yang mereka pertengkarkan. Samar-samar suara mereka. Sempat aku menangkap satu kata dan jelas sekali mama mengucapkannya. ‘Rani’. Ya.. mama menyebutkan namaku begitu jelas. Dari situlah aku mengambil kesimpulan kalau mereka sedang membicarakanku. Entah apa yang mereka bicarakan. Kucoba untuk mendekat di balik pintu dengan menggunakan kursi roda yang letakknya tidak jauh dari tempat tidur. Bi Mina sebutan untuk perempuan itu memang sengaja meletakkan kursi roda di dekat tempat tidur supaya aku bisa meraihnya dengan mudah.
“Mama mau Rina kita titipkan di panti asuhan. Mama malu pa kalau teman-teman mama tahu keadaan Rina yang sebenarnya”. Sangat keras suara mama mengucapkan kalimat itu.
“Papa tidak setuju. Walaupun papa juga tidak mau memunculkan Rina di depan rekan-rekan kerja papa, tapi panti asuhan bukan pilihan yang tepat ma”.
“Jadi di mana kita harus titipkan Rina. Teman-teman mama seminggu lagi mau datang ke sini”. Mama bertanya kepada papa
Hening. Tidak ada suara lagi yang keluar dari mulut mereka.
“Di rumah nenek saja” Usul papa membelah keheningan itu
            Di balik pintu aku merasa sakit sekali. Hatiku terasa teriris sembilan pisau tajam. Orang tua yang dulu amat menyayangiku, kini mau membuangku dari kehidupan mereka. Mereka malu?. Malu karena?. Karena fisikku?.
###
            Hari ini, Bi Mina mengantarku ke rumah nenek. Mama dan papa tidak ikut mengantar karena kesibukan mereka. Tidak habis pikir bagiku. Mereka membiarkan aku pergi tanpa meninggalkan pesan apa pun. Beruntung nenek menerima kehadiranku di rumah kayu sederhananya dengan tangan terbuka. Nenek tinggal sendiri sejak satu tahun lalu ditinggal kakek. Di sini kebahagiaan tersendiri aku dapatkan. Aku bisa merasakan nasi goreng buatan nenek setiap pagi. Teh hangat yang selalu nenek buat untukku ketika musim hujan.
            Dua tahun berlalu. Tak ada kabar dari mereka. Hanya bi Mina yang sekali-kali datang kemari mengantarkan uang bulanan. Setelah itu pergi dan kembali mengabdi di majikannya. Sampai suatu hari aku kembali di vonis oleh dokter. Leukimia. Mama dan Papa tidak tahu. Aku melarang orang lain untuk memberitahukan hal ini kepada mereka. Aku merahasiakan ini pada mereka.
            Suatu malam. Rasa sakit yang merembes sampai ke sendi-sendi tulangku membuatku merasakan sakit yang luar biasa. Kupikir ini adalah detik-detik terakhirku. Aku sedih. Mama dan papa tidak ada disampingku. Aku ingin memeluk mereka. Mencium kening mereka. Membahagiakan mereka. Walaupun selama ini mama dan papa tidak pernah menganggapku ada. Aku tetap sayang. Aku tetap menganggap mereka adalah orang tua yang paling hebat. Tak ada rasa dendam sedikitpun yang terlintas di benakku.
            Hari Selasa. Hari terakhirku menghirup segarnya udara pagi. Penyakit leukemia mengalahkan kekuatanku untuk tetap bertahan. Sampai nafas terakhirku, mama dan papa tidak pernah muncul. Mereka benar-benar sudah meniadakanku dari hidup mereka. Sempat aku menulis surat dan menitipkan pada nenek untuk disampaikan kepada mama dan papa. Dalam surat itu aku menulis
“Ma, pa yang Rina sayangi. Mungkin ini adalah surat pertama dan surat terakhirku untuk mama dan papa. Tak akan ada lagi surat-surat berikutnya. Dan mungkin ini adalah kabar pertama dan terakhir yang bisa kuberitahukan pada mama dan papa.  Ketika membaca surat ini, mungkin Rina sudah melakukan perjalanan jauh dan tidak akan pernah kembali. Rina cuma mau bilang kalau Rina sayang mama dan papa. Rina kangen mama papa. Terima kasih atas semua kenangan indah yang pernah mama dan papa berikan pada Rina. Terima kasih ma’ atas jalan-jalannya di taman dan bunga mawarnya. Terima kasih pa’ atas perhatian papa selama ini. Meski terasa singkat, tapi Rina akan mengingat semua itu. Akan kukenang masa-masa itu. Akan kubawa cerita itu dalam perjalanan yang sedang kujalani sekarang. Satu permintaan terakhirku ma’ pa’. Lihat aku sekali lagi. Lihat aku untuk yang terakhir kalinya. Kutunggu kedatangan mama dan papa di pusaranku. Terima kasih ma’ pa’. Aku selalu menyayangi kalian”
            Kututup ceritaku dengan kedatangan mama dan papa di pusaranku. Memenuhi permintaan terakhirku. Betapa bahagianya aku melihat mama dan papa sudah bisa menerima anaknya yang tidak sempurna ini. Setidaknya mama dan papa masih menganggapku anak mereka. Dari atas sini selalu kupancarkan kebahagiaan bagi anak-anak yang memiliki keterbatasn. Keterbasan yang kita miliki jangan sampai menghilangkan cinta dalam diri kita. Semuanya karena cinta. Sekali lagi aku mencintai kalian. Aku menyayangi kalian mama dan papa ku tersayang.







Minggu, 02 Desember 2012

Tak Harus Kumiliki

Telah kau sematkan rumpun tak bertepi bersama secangkir rindu yang sulit terlerai. Di ufuk senja kau menulis beberapa bait. Entah, apa yang kau utarakan di setiap goresan senjamu waktu itu. Aku tak dapat meliriknya. Satu huruf pun mataku tak sanggup menjangkau setiap tetesan tintamu. Kau yang sedang duduk di sana, menatap jauh di awan jingga. Sedang apakah gerangan dirimu? Kenapa memandangiku seperti itu? Adakah yang salah denganku? Kau hanya bisa melemparkan senyum termanismu. Senyum yang selalu terbalut dengan dua lesung pipi yang melingkar indah. Dirimu bagaikan rumpun ilalang yang tumbuh beranak pinak. Kau telah mengakar di setiap sudut-sudut kedamaianku. Kau telah mengisi dengan setetes nektar di rongga-rongga tak bertulang. Kau tahu apa artinya? Dirimu sudah meracuni hatiku yang beku. Setiap hari kau memberiku satu sendok nektar sampai nektar-nektar itu memenuhi ruang hampa itu.
Tak bosan diriku mengunyah setiap rumpun ilalang yang kau sodorkan padaku. Kau tahu kenapa? Ya, karena kau terlalu berarti bagiku.
“Terima kasih sudah menjadi pengisi lipur laraku,” ucapku malam itu.
Sudah hal lumrah kau selalu memberikan respon yang di awali dengan senyum mengembang.
“Sudah seharusnya aku menghibur orang yang aku sayangi. Hal terbodoh yang aku lakukan jika membiarkanmu larut dalam kesedihan,” akumu sembari menatapku dengan matamu yang berkilau.
“Maukah kau berjanji satu hal padaku?” pintaku tak melepaskan pandaganku
“Apa itu?” tanyamu dengan raut penasaran
“Maukah kau bersanding denganku di pelaminan nanti?” tanyaku dengan hati getar-getir. Takut kau memalingkan muka dan berkata TIDAK.
Sedikit aku ragu melihat perubahan raut mukamu. Senyummu yang selalu kau pamerkan di depanku menghilang entah kemana. Kau menunduk sejenak. Berpikir jawaban apa yang akan kau berikan padaku.
“Tentu aku mau,” janjimu memecah keraguanku. Tuhan terima kasih atas jawaban ini, ucapku membatin.
Sejak itu, rumpun ilalang dan nektar-nektar itu kau sajikan begitu apik. Berharap tak akan layu dan berubah rasa.
Suatu hari kau pamit padaku.
“Mas, aku ingin menemui orang tuaku yang ada di kampung. Mengabari rencana kita,” ujarmu saat itu
“Aku bisa mengantarmu jika kau menghendaki, bukankah aku memang harus bertemu dengan orang tuamu?”
“Tidak usah mas, nanti saya akan kabarkan kapan mas bisa bertandang ke rumah,” tolakmu dengan halus.
Kurelakan kau pergi. Menunggu kepastian kapan aku bisa meminangmu dan memintamu kepada orang tuamu. Rinduku selalu kutitipkan pada kicauan burung yang gemersik di antara rumpun bambu. Derai-derai hujan bersenandung ria di puncak malam. Menguak sejuta rasa. Dalam pembaringan kulihat dirimu tergopoh-gopoh menghampiriku. Ada apa gerangan dirimu? Berlari di tengah hujan lebat membawa selembar kertas. Apa arti semua ini? Aku terbangung. Memandangi di sekitarku. Tak ada. Kau tak ada di sini. Cuma mimpi.
Senja itu, di atas cakrawala persis di saat kau menulis seuntai bait-bait yang tak pernah kutahu apa isinya. Secarik kertas kuterima dari seseorang yang tak kutahu namanya. Mataku terperanjat membaca kalimat-kalimat itu. Inikah arti mimpi semalam?.
'Atas nama cinta, relakan aku untuk bersanding dengan pilihan orang tuaku. Maaf, aku tak bisa merajut cinta yang pernah kita susun bersama'. Sepenggal kalimat itu menggetarkan seluruh nadiku. Menghentikan peredaran darahku. Walau diakhir suratmu kau berkata 'Aku masih sayang kamu mas, tapi ini takdir hidupku yang harus aku terima'. Cinta yang kau sematkan dalam surat itu tak mampu melerai butiran-butiran air meluncur di pelupuk mataku. Mereka beradu seakan tak rela melihatmu duduk berdampingan dengan orang lain. Biarlah rumpun ilalang itu tetap mekar. Biarlah Nektar itu tetap menetes. Menjadi saksi bahwa aku tak pernah melupakanmu.