Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar. Terima Kasih ^_^


widgeo.net
Tampilkan postingan dengan label Cerpen ala Yuni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen ala Yuni. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Desember 2012

Lihat Aku Sekali Lagi




Sunyi. Gelap. Bagaikan ruangan kosong kedap suara yang tak bercahaya. Lemah tubuh ini melawan kerasnya kehidupan yang harus kujalani. Semua terdiam. Membisu. Menutup telinga. Tak pernah menyentuhku. Seolah terasingkan dari keramaian dunia.  Tak pernah sekalipun aku merasakan keindahan taman. Harumnya bunga mawar. Tak ada yang bisa kurasakan. Tubuhku seperti mayat hidup. Rohku entah kemana melalangbuana.
Hanya ruangan berukuran 4 x 5 m yang menjadi saksi cerita pahitku. Dan seorang yang tidak kukenal rupanya seperti apa. Tapi, dari caranya menyentuhku aku yakin dia seorang perempuan. Setiap hari dia memandikan tubuhku. Menyisir rambutku. Menyuapiku. Entah siapalah dia. Sedikit harapan yang terbesit olehku. Masih ada yang mau berbagi denganku. Sedikit mengobati kesendirianku. Awalnya aku pikir dia wanita yang selalu mengajakku bermain di taman dulu. Awalnya aku pikir dia wanita yang selalu membelikan bunga mawar di setiap aku ulang tahun. Bukan. Bukan dia. Aku tahu bagaimana lembutnya tangannya ketika dia membelaiku. Aku tahu seperti apa aroma tubuhnya. Perempuan yang selalu keluar masuk kamarku tidak selembut tangannya dan aromanya pun berbeda. Dari situlah aku tahu kalau perempuan itu bukan Dia.
Tiga tahun yang lalu sebuah kecelakaan fatal menimpaku. Badanku yang kecil terjatuh dari lantai dua rumah. Waktu itu kakiku tergelincir waktu menuruni anak tangga dan tidak bisa menahan tubuhku, akhirnya aku jatuh dan “Praaaak”. Tidak sadarkan diri. Dari situlah awal semua penderitaanku. Dokter memvonis aku tidak bisa melihat, berbicara dan berjalan. Akibat benturan itu, urat-urat syarafku terputus dan mengakibatkan semua penyakit itu mampir di kehidupanku.
Wanita yang kukenal dulu lembut dan penuh kasih sayang berubah menjadi wanita yang tak peduli sama sekali seiring perubahan yang kualami. Mama jadi dingin. Sekalipun dia tidak pernah mencoba untuk masuk ke kamarku. Tidak pernah menyentuh tubuhku. Dan, mungkin tidak pernah menanyakan kabarku.
Dulu sebelum kejadian itu terjadi, mama sering mengajakku jalan-jalan ke taman setiap minggu. Memetik bunga mawar yang berjejeran di taman itu sampai-sampai penjaga taman mengejar-ngejar kami karena sebenarnya pengunjung taman dilarang mengambil apapun dari taman termasuk bunga mawar itu.
Teringat kembali dalam memoriku masa-masa indah itu yang sempat mati dalam kubangan nestapa. Ingin aku berlari-lari di taman itu. Tidak mungkin. Ini hanya mimpi. Semua kegalauan menyatu dalam heningnya malam itu.
Mama seolah-olah tidak mengenaliku dan tidak pernah menganggap keberadaanku. Fisikku yang berbeda dengan anak-anak normal lainnya mengubur semua mimpiku untuk selalu bersama mama dan membahagiakannya. Aku yang berbeda tidak mampu untuk berkata banyak. Keterbatasanku telah mengurungku. Rasanya ingin memberontak. Tidak adil pikirku. Takdir. Apakah ini yang disebut takdir?. Apakah ini jalan Tuhan untukku?. Apakah masih ada secuil doa yang bisa aku pinta? Jika iya, tolong pertemukan aku dengan mama yang dulu. Aku kangen dengan belaian mama Tuhan. Kangen dengan senyum mama. Kangen dengan sentuhan mama. Kangen dengan suara mama. Aku kangen dengan semua itu Tuhan. Apa yang harus kulakukan untuk memanggil mama kembali kepadaku.
###
            Pagi ini, perempuan yang selalu bolak balik ke kamarku mengantarkan sarapan. Dia membuka jendela. Aku tahu itu karena aku bisa merasakan hembusan angin pagi menyentuh badanku. Kuambil sebuah kertas yang sudah kuhapal dimana letakknya. Diikuti pulpen yang berada tidak jauh dari kertas itu. Meski aku tidak bisa melihat tapi aku masih bisa menulis. Entah tulisanku jelek atau tidak yang jelas tulisanku bisa di baca. Aku sudah tahu huruf-huruf alfabet sejak berumur tiga tahun. Jadi, aku sudah tahu bagaimana bentuk A B C dan seterusnya sampai huruf Z. “Mama mana”?. Kusodorkan kertas itu kepada perempuan itu. Beberapa detik perempuan itu membisu sampai akhirnya berkata “Nyonya sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali tadi”. Huft, jawaban yang sama selalu dia ucapkan ketika kupertanyakan ‘dimana mama’. Bosan dengan jawaban-jawaban itu. Kuambil kembali kertas itu “Mama tidak pernah menanyakan kabarku”?. Tanyaku lagi di atas kertas yang sama. Perempuan itu diam. Bukan beberapa detik. Tapi, beberapa menit. “Tadi pagi, nyonya sempat menanyakan kabar non”. Hanya mengangguk. Itulah reaksiku. Bukannya aku mengangguk karena percaya, tapi aku mengangguk karena lelah dengan kebohongan-kebohongan itu. Aku tahu kalau perempuan itu cuma berbohong. Dia tidak ingin melihat aku larut dalam kesedihan kalau aku tahu mama tidak pernah menanyakan perkembanganku.
            Pagi begitu lambat berlalu. Terasa lama bagiku. Hanya berbaring di tempat ini setiap hari. Bosan. Sakit kepala dan sebagainya. Suara-suara jangkrik itu membuyarkan lamunanku. Suara jangkrik menandakan malam sudah tiba. Begitulah caraku membedakan antara pagi dan malam. Meski kedengarannya konyol sih karena suara jangkrik bisa saja terdengar kalau pagi.
            Dari balik ruangan 4 x 5 itu, kudengar mama dan papa bertengkar hebat. Tak jelas apa yang mereka pertengkarkan. Samar-samar suara mereka. Sempat aku menangkap satu kata dan jelas sekali mama mengucapkannya. ‘Rani’. Ya.. mama menyebutkan namaku begitu jelas. Dari situlah aku mengambil kesimpulan kalau mereka sedang membicarakanku. Entah apa yang mereka bicarakan. Kucoba untuk mendekat di balik pintu dengan menggunakan kursi roda yang letakknya tidak jauh dari tempat tidur. Bi Mina sebutan untuk perempuan itu memang sengaja meletakkan kursi roda di dekat tempat tidur supaya aku bisa meraihnya dengan mudah.
“Mama mau Rina kita titipkan di panti asuhan. Mama malu pa kalau teman-teman mama tahu keadaan Rina yang sebenarnya”. Sangat keras suara mama mengucapkan kalimat itu.
“Papa tidak setuju. Walaupun papa juga tidak mau memunculkan Rina di depan rekan-rekan kerja papa, tapi panti asuhan bukan pilihan yang tepat ma”.
“Jadi di mana kita harus titipkan Rina. Teman-teman mama seminggu lagi mau datang ke sini”. Mama bertanya kepada papa
Hening. Tidak ada suara lagi yang keluar dari mulut mereka.
“Di rumah nenek saja” Usul papa membelah keheningan itu
            Di balik pintu aku merasa sakit sekali. Hatiku terasa teriris sembilan pisau tajam. Orang tua yang dulu amat menyayangiku, kini mau membuangku dari kehidupan mereka. Mereka malu?. Malu karena?. Karena fisikku?.
###
            Hari ini, Bi Mina mengantarku ke rumah nenek. Mama dan papa tidak ikut mengantar karena kesibukan mereka. Tidak habis pikir bagiku. Mereka membiarkan aku pergi tanpa meninggalkan pesan apa pun. Beruntung nenek menerima kehadiranku di rumah kayu sederhananya dengan tangan terbuka. Nenek tinggal sendiri sejak satu tahun lalu ditinggal kakek. Di sini kebahagiaan tersendiri aku dapatkan. Aku bisa merasakan nasi goreng buatan nenek setiap pagi. Teh hangat yang selalu nenek buat untukku ketika musim hujan.
            Dua tahun berlalu. Tak ada kabar dari mereka. Hanya bi Mina yang sekali-kali datang kemari mengantarkan uang bulanan. Setelah itu pergi dan kembali mengabdi di majikannya. Sampai suatu hari aku kembali di vonis oleh dokter. Leukimia. Mama dan Papa tidak tahu. Aku melarang orang lain untuk memberitahukan hal ini kepada mereka. Aku merahasiakan ini pada mereka.
            Suatu malam. Rasa sakit yang merembes sampai ke sendi-sendi tulangku membuatku merasakan sakit yang luar biasa. Kupikir ini adalah detik-detik terakhirku. Aku sedih. Mama dan papa tidak ada disampingku. Aku ingin memeluk mereka. Mencium kening mereka. Membahagiakan mereka. Walaupun selama ini mama dan papa tidak pernah menganggapku ada. Aku tetap sayang. Aku tetap menganggap mereka adalah orang tua yang paling hebat. Tak ada rasa dendam sedikitpun yang terlintas di benakku.
            Hari Selasa. Hari terakhirku menghirup segarnya udara pagi. Penyakit leukemia mengalahkan kekuatanku untuk tetap bertahan. Sampai nafas terakhirku, mama dan papa tidak pernah muncul. Mereka benar-benar sudah meniadakanku dari hidup mereka. Sempat aku menulis surat dan menitipkan pada nenek untuk disampaikan kepada mama dan papa. Dalam surat itu aku menulis
“Ma, pa yang Rina sayangi. Mungkin ini adalah surat pertama dan surat terakhirku untuk mama dan papa. Tak akan ada lagi surat-surat berikutnya. Dan mungkin ini adalah kabar pertama dan terakhir yang bisa kuberitahukan pada mama dan papa.  Ketika membaca surat ini, mungkin Rina sudah melakukan perjalanan jauh dan tidak akan pernah kembali. Rina cuma mau bilang kalau Rina sayang mama dan papa. Rina kangen mama papa. Terima kasih atas semua kenangan indah yang pernah mama dan papa berikan pada Rina. Terima kasih ma’ atas jalan-jalannya di taman dan bunga mawarnya. Terima kasih pa’ atas perhatian papa selama ini. Meski terasa singkat, tapi Rina akan mengingat semua itu. Akan kukenang masa-masa itu. Akan kubawa cerita itu dalam perjalanan yang sedang kujalani sekarang. Satu permintaan terakhirku ma’ pa’. Lihat aku sekali lagi. Lihat aku untuk yang terakhir kalinya. Kutunggu kedatangan mama dan papa di pusaranku. Terima kasih ma’ pa’. Aku selalu menyayangi kalian”
            Kututup ceritaku dengan kedatangan mama dan papa di pusaranku. Memenuhi permintaan terakhirku. Betapa bahagianya aku melihat mama dan papa sudah bisa menerima anaknya yang tidak sempurna ini. Setidaknya mama dan papa masih menganggapku anak mereka. Dari atas sini selalu kupancarkan kebahagiaan bagi anak-anak yang memiliki keterbatasn. Keterbasan yang kita miliki jangan sampai menghilangkan cinta dalam diri kita. Semuanya karena cinta. Sekali lagi aku mencintai kalian. Aku menyayangi kalian mama dan papa ku tersayang.







Senin, 15 Oktober 2012

Kulihat Surga di Matamu

Cerita ini kutulis untuk mama. Kepersembahkan tulisan ini untuk mama. Walaupun tidak sebagus dengan cerita-cerita penulis terkenal, tapi cerita ini mewaili kasih sayangku yang tulus untukmu Mama.

Check it out!!! :) 


Kupandangi sebuah foto yang terpajang di dinding ruang tamu. Di sana berdiri tegak sosok wanita dengan toga di kepalanya. Ya..itu adalah foto wisuda mama. Terlihat begitu bahagia dengan pakain kebanggaan seorang sarjana. Terbesit olehku untuk bisa memakai pakaian dan toga itu.
Mama. Seorang wanita yang menjadi motivator nomor satu dalam hidupku. Melahirkan, menyusui, membesarkan, mendidik, dan merawatku tanpa ada keluhan sedikutpun. Aku yang terlahir dari rahim seorang wanita yang hebat seperti mama begitu bangga bisa dilahirkan di dunia ini. Bangga bisa menjadi anaknya. Tidak terlintas dalam pikiranku untuk menyakiti hati beliau. Tapi dasar,  aku yang kurang memahami betapa sulitnya menjadi seorang ibu terkadang menggores hati mama. Meninggalkan pilu yang mendalam.
Pernah suatu ketika, aku marah sama mama. Membanting pintu kamar dengan keras. Mengurung diri dalam kamar. Dan diam seribu kata di depan mama. Hanya soal sepele sebenarnya. Waktu itu mama tidak sengaja menendang pot kesayanganku sampai pecah. Dan itu awal dan penyebab dari semua kemarahanku. Entah makhluk apa yang sudah merasuki jiwaku. Menyesal? Iya. Sedih karena sudah membentak mama? Pasti. Ini adalah sebagian kecil kesalahan yang pernah melukai hati mama.
Sering aku meninggikan suaraku di depan mama kalau ada yang aku tidak suka. Sering aku membanting pintu keras-keras sebagai tanda kemarahanku. Sering aku mengecewakan mama dengan segala ulahku. Tapi, tidak pernah terlintas di pikiran mama untuk membenciku. Dia tetap sayang sama aku. Sayang sama adik dan kakakku. Sayang anak-anaknya,walaupun kami selalu rusuh ketika memperebutkan sesuatu yang terkadang membuat mama harus turun tangan melerai kami.
Mama memang sosok wanita yang penuh kasih sayang. Mama adalah seorang mama seperti mama-mama yang lain. Masih sering terdengar ungkapan-ungkapan pedas yang keluar dari mulutnya. Apalagi kalau kami anak-anaknya tidak bisa akur. Ocehan-ocehan pun sering meluncur bebas dari mulut mama.
Masih teringat jelas di benakku. Waktu itu aku dan kakakku memperebutkan makanan. Mama bilang begini “Makanan jangan diperebutkan, nanti Tuhan mengambil makanannya semua. Kalian mau makan apa kalau Tuhan marah”. Kami asyik sendiri dengan aktivitas kami. Tanpa mendengar kata-kata mama. Sejurus kemudian, tangan mama sudah melekat di telinga kami. Menjewer telinga kami sampai kami berjanji untuk tidak berkelahi lagi. Hah, kalau mengingat kejadian itu aku sering tertawa geli sendiri.
Aku tidak punya moment yang bisa dibilang paling berkesan dengan mama. Kerena bagiku semua moment-moment baik itu sedih maupun senang, semuanya menyimpan kesan dalam catatan perjalanan hidupku. Tanpa semua moment itu, aku tidak bisa sampai di level sekarang ini.
Sekarang aku sudah di bangku kuliah. Masa-masa itu sudah terlewatkan semua. Aku tumbuh menjadi seorang wanita yang siap membanggakan mama. Belajar dengan benar. Menjaga diri dan nama baik keluarga.
Sering aku terbangun di tengah malam. Dan sering pula aku melihat mama menadahkan tangannya. Meminta kepada sang pencipta untuk kebahagiaan anak-anaknya. “Pernahkah aku mendoakan mama di shalat tahajudku?”. Pernahkah aku membahagiakan mama dengan prestasiku”?. Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur seketika dalam pikiranku.
Dalam hati, pantas kah saya dilahirkan dari rahim wanita yang penuh cinta dan kasih. Tulus menyayangi, sedang saya sering membantahnya, membangkan, mengelurkan kata-kata kasar dan sebagainya.
Bisa berdiri di samping mama dengan toga di kepalaku dan pakaian kebangaan seorang sarjana adalah mimpiku. Memajang foto di dinding kamarku dan di rumahku kelak nantinya sebagai bukti perjuangan mama mendidikku dan membawaku bisa memegang gelar sarjana. Salah satu pesan mama yang selalu aku ingat “Jaga dirimu baik-baik di kampung orang. Jangan menjadi orang sombong dan jangan pernah merasa hebat jika kamu berhasil nantinya”
Memandangi wajah mama, ada rasa bangga tersendri bisa dilahirkan dari rahim seorang wanita yang hebat. Tanpa henti menasehatiku. Dengan sabar menuntunku. Motivator terbesar.Inspirasi yang paling hebat. Doa yang paling ampuh. Itu adalah dirimu ‘mama’.  Ada sebuah cahaya yang terpanjar di bola-bola matamu setiap kali memandangimu. Dan kulihat surga di sana. Ingin aku memeluk erat tubuhnya. Mencium pipinya. Merangkul dan mengatakan “Aku sayang mama, maafkan ananda atas segala kesalahan yang pernah ananda perbuat”. Sekali lagi ‘Ananda sayang Mama’

Selasa, 01 Mei 2012

Mesin Ketik Kusam


Mesin Ketik Kusam
by: yuni indasari
Aku terlahir dari keluarga sederhana.Ayahku seorang guru di salah satu SD Negeri.Sedang ibuku menjual kue untuk membantu ayah.Bersama kedua saudaraku aku tinggal di rumah ini.Rumah yang sangat sederhana.Ayah dan ibu sangat menyayangi kami.Awalnya kami hidup bahagia.Penuh canda dan keceriaan.Kemudian kebahagiaan itu tinggallah impian belaka.Aku tak pernah merasakan kehangatan dari pelukan seorang ibu.Aku tak pernah lagi mendengar suara ayah berceramah setelah selesai salat.Hampa, sepi, kosong, mungkin itulah gambaran dari apa yang aku rasakan sekarang.Berawal dari keputusan saya untuk masuk ke jurusan sastra.Mereka tak setuju.Ayah menginginkan aku untuk menjadi dokter.Tapi aku tetap kukuh untuk menjadi sastrawan.Pertengkaran pun tak terelakan.Aku tetap dengan pendirianku.Begitu juga dengan ayah.Rumah tak lagi menjadi tempat candaan bagi aku.Semuanya telah berubah menjadi neraka.Ayah yang bijak menjelma menjadi monster yang siap menerkam mangsanya.Ibu yang lembut seolah menjadi salju yang beku dengan kemarahan ayah.Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari rumah.Pergi dari orang-orang yang benci akan cita-citaku.
Aku masih SMA.Aku masih butuh bantuan ayah dan ibu.Butuh kasih sayang dan perhatian.Sekolahku sempat terbengkalai beberapa bulan karena tak punya biaya.Uang tabunganku aku gunakan untuk membayar kos.Tapi, setelah aku bekerja sambilan di sebuah percetakan aku bisa sekolah lagi.Di rumah kecil itulah, aku memulai kembali semua harapan yang pernah pupus.Aku memulai menulis lagi.Dengan mesin ketik, hadiah ayah ketika aku berulang tahun jari-jemariku terlihat lincah menari-nari di atas keyboard.Walaupun benda itu menyimpan keindahan dan kenangan dari orang-orang yang aku cintai.Keputusanku untuk meninggalkan rumah memang bukan keinginanku.Tapi, keinginan yang lain sangat kuat mendorong aku untuk pergi.Mungkin ini yang terbaik.Suatu saat aku akan kembali dengan menghadiahkan sebuah kebanggan untuk mereka.
Sore itu aku sedang membaca di teras kosku.Sebuah novel berwarna kuning telah seperdua aku baca.Saat aku beranjak dari kursi untuk mengambil sebuah camilan, terdengar suara dari luar pekarangan berteriak “Kar, jalan-jalan yuk ! Jangan baca terus”. Ajak salah satu dari mereka.Aku tersenyum tak membalas mereka.Tak tahu apa yang harus aku jawab. ”Orang seperti dia cocoknya memang di rumah.Tidak perlu di ajak”.Wanita berbaju kuning itu pun ikut bicara.
“Dasar KUPER”.Ejek salah satu dari mereka lagi
Kembali aku tersenyum kepada mereka.Lagi-lagi aku tak menjawab.Tak berani membalas semua ejekan mereka.Kesal?Iya.Marah?sangat marah.Sempat aku ingin membalas mereka.Tapi, aku ingat pesan ayah.Pesan yang selalu ia katakan kepada anak-anaknya “Menghadapi sesuatu itu harus sabar.Emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah”.
Hal seperti ini sering aku alami.Mungkin sangat sering.Tidak di rumah (kos), di sekolah pun hal itu sudah biasa.Sifatku yang pendiam dan pemalu, membuatku tidak mempunyai teman dan keberanian.Setiap waktu, aku habiskan di perpustakaan.Tak ada jalan-jalan.Hanya membaca dan menulis.Hal ini membuat aku jadi tersingkir dari dunia luar.Jauh dari keramaian dan pergaulan.Wajar kalau mereka memberikan predikat “Ratu Kuper dan Kutu Buku”.
           



Kertas berserakan di lantai.Tak dapat kutemui kata-kata yang cocok untuk melengkapi tulisanku.Semuanya hilang.Aku duduk bersandar di kursi.Melihat kembali memori bersama keluargaku.Memutar kenangan-kenangan indah bersama mereka.Kukatupkan kedua bola mataku.Air mata mengalir seperti sungai, tak henti.Aku sangat rindu dengan mereka.Rindu dengan kedamaian dan keceriaan.Tak dapat kutemui di tempat ini.
Satu tahun aku pergi dari rumah.Sekarang aku kelas 3 SMA.Tak terasa waktu begitu cepat berlalu.Selama satu tahun aku mencoba untuk memulai awal dari cita-citaku.Mencoba untuk menulis kembali.Tanggal 14 Juni, aku mencoba mengikuti suatu perlombaan yang diselenggarakan oleh salah satu Majalah Remaja.Aku harus puas dengan mendapat juara Harapan I.Kecewa ? mungkin iya.Kecewa, karena aku telah melewati kesempatan emas itu.Bagiku perlombaan ini sangatlah berarti.Jarang sekali aku mendapatkan kesempatan seperti ini.Pernah, aku meminta bantuan guruku untuk mengirimkan hasil tulisanku.Tapi, dengan alasan hasil tulisanku sangat tidak kreatif dan menurutnya itu adalah sampah, dia nenolak.Pasrah aku menerima kenyataan ini.Aku memang sering maminta bantuan guru dan teman-temanku untuk mengirimkan hasil tulisanku, kerena aku tidak tahu kemana aku harus menyalurkannya..Tapi, puluhan kali juga mereka menolak.Aku sudah pernah mencoba mengirim ke salah satu Majalah Remaja.Mereka selalu menolak dan mengembalikan cerpen-cerpenku.Karena kehabisan biaya aku pun meminta bantuan guru dan teman-temanku.Tapi, nasibku harus menerima semua penolakan mereka.Aku sempat drop, keputusasaan menguasai diriku.Semangatku untuk menulis terkuras habis dengan ketidak adilan ini menurutku.Berminggu-minggu mesin ketik yang sudah tua itu menganggur tak ada yang menyentuh.Kotor karena debu.Aku malas menyentuhnya.Membersihkannya pun aku tidak pernah lagi.Dengan setitik cahaya dan secuil dorongan, aku mulai bangkit kembali.Menata semua yang sudah terbengkalai.
            Tahun 2009 aku lulus ujian.Sekarang aku kuliah di salah satu Universitas Negeri, mengambil jurusan sastra tentunya.Sebuah mesin ketik kusam yang selalu membantu aku menyelesaikan tulisan-tulisanku seperti malas menemaniku.Mungkin capek.Seperti aku lelah akan semua ejekan orang-orang yang meremehkanku.Tak terkecuali kedua orang tuaku.Mereka sangat merendahkan profesi sastrawan.Ah…sudahlah.Mereka adalah semangatku untuk bisa membuktikan kepada mereka bahwa “Aku Bisa”.Malam ini aku mulai menari-nari di atas keyboard yang sudah tidak jelas angka dan hurufnya.Kertas berhampuran di lantai.Otakku mulai berputar untuk menemukan kata-kata yang sepadan dengan tema cerpenku.Suara keyboard berdentang di kesunyian malam.Jam 11.00, aku masih bergelut dengan mesin ketikku.Mataku sudah ingin mengatup.Namun, jari-jemariku tak bisa berhenti.Jam 01.00 malam, akhirnya cerpen itu selesai.Aku beri judul “Karla si Kutu Buku plus Ratu Kuper”.Kata-kata yang aku ambil dari orang-orang yang memberiku predikat seperti itu.Plotnya tak jauh beda dengan alur kehidupanku.Karla yang pendiam dan pemalu adalah tokoh utamanya.
           








“Tok…tok…tok”.Suara pintu terdengar ada yang mengetuk, memanggil si empunya rumah.”Assalamualaikum, Kar..”Teriaknya mengucapkan salam
“Waalaikumsalam”.jawabku membalas salamnya
“Kar…kamu suka nulis kan?”tanyanya
“Iya”.jawabku singkat
“Begini Kar, aku dengar kalau salah satu Organisasi Remaja sedang mengadakan perlombaan menulis Cerpen.Itu kan kesempatan emas untuk kamu.”
Rina teman akrabku seakan memberikan peluang untuk lebih maju.Tapi, masalahnya sekarang adalah, aku tak punya biaya.Ongkos ke sana ditambah lagi dengan uang pendaftaran sangat mahal bagiku.Uang hasil kerja sambilanku di salah satu percetakan hanya cukup mambayar uang kos saja.Bingung aku ke mana aku mencari uang.Ke teman-temanku tidak mungkin.Aku tak punya teman.Hanya Rina, tapi dia pun tidak bisa membantu karena ibunya sakit, butuh biaya.Orang tuaku?Lebih-lebih mereka, pasti tidak akan memberi.Tapi, kalu aku tidak mengikutinya.Sayang..!Kesempatan itu sangat langka.
            Kutatap mesin ketik yang setia menemaniku.Tersenyum aku melihatnya.Namun, sedih kurasa.Sangat sedih.Sedih karena harus kehilangan kenangan yang begitu indah bagiku.Demi janjiku kepada mereka, aku harus merelakan mesin ketik itu.Aku menjualnya.Lumayan, cukup untuk mengikuti perlombaan ini.
Satu minggu saya menunggu pengumuman.Setiap hari saya harus meminjam koran tetangga.Aku harus menunggu sampai yang punya koran selesai membaca.Sebenarnya aku juga malu meminjam koran-koran tetangga.Mungkin mereka sudah bosan melihat aku setiap hari meminjam korannya.Pukul 03.00 sore, aku meminjam koran Pak Jaya.Untung pak Jaya sudah selesai membacanya tadi pagi.Kubuka lembaran demi lembaran.Tak jauh beda dari berita-berita kemarin.Lagi-lagi kasus korupsi.Ilegal login.Demo para mahasiswa .Ah, sudah lembaran ketiga aku buka.Belum ada.Kini, lembaran kelima.Terlihat pengumuman yang aku cari.Disitu tertulis bahwa pemenang I adalah Lestari.Lagi-lagi aku harus kecewa.Cerpenku hanya bisa meraih juara kedua.Harus puas dan lapang dada.Teman setiaku sudah pergi.Sekarang, aku menulis tampanya.Ingin aku membeli kembali, tapi aku harus menunggu tabunganku cukup.
Menulis tanpa mesin ketik dari ayah membuat semangatku jadi kendor.Dulu aku memang sempat putus asa.Namun, karena mesin ketik itu aku bangkit kembali.Sekarang mesin ketik itu sudah tidak ada.Hal satu-satunya yang membuat aku bertahan adalah janjiku terhadap orang tuaku.
Aku memulai menulis tanpa mesin ketik dari ayah.Uang tabunganku aku gunakan untuk mengirim cerpen-cerpenku di majalah-majalah remaja.Padahal uang itu aku tabung untuk membeli kembali mesin ketik dari ayah.Setiap minggu, pak pos selalu datang mengembalikan cerpen-cerpenku yang ditolak.Setiap hari aku menutup kuping dengan cemooh dari orang-orang.”Kamu tidak malu, setiap minggu cerpen-cerpen sampahmu itu dikembalikan.Kamu tak lebih dari penulis kacangan”.Panas telingaku mendengarnya.Tapi, kujadikan sebagai cambuk bagiku untuk lebih maju.Suatu hari aku mencoba mengirim kembali cerpen-cerpenku.Cerpen ini sudah lama aku buat.Judulnya “Si Karla Kutu buku plus Ratu Kuper”.Cerpen yang terakhir kali aku buat bersama mesin ketik berwarna hitam bermerk Panasonic itu.




Hari Minggu, pak pos datang lagi.Entah kabar apa yang dibawa.Mungkin penolakan lagi.Kubuka amplop yang terlem itu.Akhirnya, cerpenku dimuat juga di majalah itu.Untuk pertama kali cerpenku terpampan di Majalah.Sejak itu cerpen-cerpenku selalu dimuat di majalaj-majalah remaja.Dan sekarang aku berlangganan di salah satu Majalah terkenal.Sangat senang rasanya.
“Mudah-mudahan mesin ketik itu belum ada yang membeli”.Harapanku begitu sangat tipis.Berjalan menelusuri jalan-jalan setapak.Dan akhirnya aku sampai di penjual loak Pak Tani.Bertanya aku dengan penuh harapan.Alhamdulillah, mesin ketik itu masih ada.Mungkin tidak ada yang berminat karena sudah tua dan sangat kusam.Aku sangat bahagia memiliki kembali mesin ketik itu.
Tanggal 14 Juni aku pulang ke rumah.Membawa berita gembira.Mungkin mereka sudah mengetahuinya.Aku sangat berharap ayah bisa menerima aku dan profesiku.Sesampai aku di rumah, harapan itu tetap tinggal harapan.Ayah tetap dengan pendiriannya.Tidak menerima aku sebagai seorang penulis.Aku tidak tahu kenapa ayah begitu membenci profesiku.Entahlah..!.Tetapi aku tetap meneruskan cita-citaku menjadi seorang penulis sejajar dengan penulis-penulis ternama.Ayah memang tidak suka.Tapi, ibu sudah mau menerima aku sebagai seorang penulis.Ibu yang selalu memberikan dorongan dan semangat untuk maju.Walau ayah tidak menyukainya, tetapi aku yakin ayah pasti menyimpan suatu kebanggan di hatinya yang paling dalam.Itu terbukti karena ayah selalu membaca cerpen-cerpenku.Ayah memang tetap mengatakan kalau dia tidak menyukai profesiku sebagai seorang penulis.Tak apalah, yang penting ayah masih mau membaca cerpen-cerpenku.Sekarang aku sudah aktif di Organisasi Sastra Bumi.Disitu aku memulai karierku sebagai seorang penulis.Aku tetap ditemani oleh mesin ketik kusam itu.Aku tetap bangga menyimpannya.Mesin ketik pemberian ayah yang menyimpan sejuta kenangan.Kenangan yang tidak akan pernah terhapus dalam memoriku.Mesin ketik itu adalah bukti perjuanganku.Perjuangan yang aku lewati sampai sekarang.Kenangan bersama  ayah akan terus aku ingat.Bagiku mesin ketik itu adalah ayah, dan ayah adalah mesin ketik itu.Dia akan selalu berjuang bersamaku melawan badai yang kian ganas.





Bicaralah Pada Ombak


Bicaralah Pada Ombak
by: Yuni Indasari
            Pagi itu Vira sedang duduk di pinggir pantai. Matanya dimanjakan dengan keindahan panorama pantai Bira. Baju putih dan celana jeans yang dikenakannya basah terkena air. Rambutnya yang diurai ditiup oleh angin pantai. Tiba-tiba pandangan Vira mengarah kepada sosok gadis kecil dengan rambut yang berantakan, badanya dekil, pakainaanya kumal dan compang-camping sedang duduk di sampingnya. Hasrat Vira untuk menikmati indahnya pantai Bira hilang sekejap. Dari pancaran matanya, dia seakan jijik dengan gadis itu. Dia pun beranjak dari tempat duduknya dan menjauhi gadis itu. Tak disangka gadis itu berdiri dan mengikuti langkah Vira. Vira yang merasa terusik langsung membentak gadis itu.
“Eh, gadis kumal, kamu kenapa mengikuti saya terus?”
Gadis itu menunduk memandangi pasir-pasir putih yang seakan iba terhadap dirinya.
“Pergi sana! Jangan ikuti saya terus, ngerti?” Vira kembali membentak.
Gadis itu tetap berdiri di depan Vira sambil menundukkan kepalanya. Dengan perlahan-lahan, dia mengangkat kepalanya dan menatap Vira tanpa ada seuntai kata pun yang keluar dari mulutnya. Setelah itu dia membalikkan badannya dan berlari di atas pasir putih dengan kaki telanjang sampai tubuh mungilnya itu tidak terlihat lagi.
            Vira duduk sendiri di atas pasir putih sambil melantungkan lagu kesayangannya. Dia sepertinya melupakan kejadian tadi. Dia mulai tetrbawabsuasana pantai, dia memandang jauh ke arah laut.
“Vira...” Suara teriakan itu membuat lamunan Vira jadi buyar
“ Hai...Vir, kamu tidak bosan duduk terus disitu, nggak cape?” Sambung Rima
Vira sontak kaget dan kesal terhadap temannya itu.
“Ah...kamu Rim, ngapain sih kamu ganggu orang, nggak ada kerjaan ya. Kamu seperti anak kecil itu aja. Gara-gara suara merdumu itu, pangeranku jadi kabur” Kesal Vira
“Pangeran dari mana tuan putri? Dari tadi kamu duduk sendiri disitu” Kata Rima
“Pangeranku datang dari alam lamunan, tau...?” Vira tambah kesal
“Sewot amat sih non, ada masalah apa sih?” Tanya Rima
“Aku kesal, jengkel sama anak itu. Pokoknya aku benci sama anak itu.” Teriak Vira
Rima tak berani melanjutkan ucapannya. Dia tidak mau kalau Vira sampai menjadi-jadi. Rima duduk di samping Vira. Suara ombak masih terdengar. Angin masih bertiup. Orang-orang masih ramai mondar-mandir. Anak-anak berkejaran di pinggir pantai, ada juga yang membuat istana. Di antara mereka ada juga yang mengabadikan momen indah itu bersama teman, keluarga, pacar, ataupun teman baru dengan kilatan cahaya atau kamera, tak terkecuali Rima dan Vira. Mereka tidak mau melewatkan momen ini. Vira sedang asyik memandangi pulau di seberang sana. Sedang Rima sibuk dengan kameranya. Vira mencoba menghilangkan semua kejadian tadi. Tiba-tiba dari arah belakang.
“Kak, ini jam tangan kakak.” Suaranya datar tak berintonasi
“Kamu lagi, oh....rupanya kamu yang mencuri jam tagan saya, masih kecil kok sudah mencuri. Nggak tahu malu.” Vira mengambil jam tangan itu dengan kasar dan “Prak...” anak itu terjatuh di dorong oleh Vira.
“Vir, apa-apaan sih kamu, sama anak kecil kamu berani main dorong-dorongan, belum tentu kan dia yang mencuri jam tangan kamu.” Rima berhenti melakukan kegiatannya
“Anak itu dari tadi mengikuti aku terus, ternyata dia menginginkan jam tangan ini.” Vira menunjukkan jam yang ada ditangannya
“Aku tidak mencuri jam tangan itu, aku cuma menemukannya di sana.” Anak itu menunjuk ke suatu tempat
“Diam kamu, yang jelas kamu yang mengambil jam tangan saya.” Bentak Vira
Rima yang melihat kejadian itu, langsung menarik tangan Vira. Mereka berlari menuju ke suatu tempat. Tempat itu amat sepi, jauh dari keramaian.
“Vir, sekarang kamu tutup mata kamu, hayati suara ombak itu dan rasakan hembusan angin itu.” Kata Rima
Vira melepaskan genggaman Rima dari tangannya. Dia meronta dan berteriak. Tiba-tiba di depannya berdiri seorang gadis kecil, Vira mengusir gadis itu. Tak berapa lama dia melihat sebuah benda yang bersandar di pinggir pantai. Dia ingin menaiki perahu itu. Tapi Rima melarangnya.
“Vir, sebaiknya kamu nggak usah naik perahu itu. Ombak sangat besar Vir, bahaya.” Cegah Rima
“Cuma sebentar kok, pokoknya aku mau naik perahu itu.”Ngotot Vira
“Tapi itu bahaya Vir.” Kata Rima
“Itu urusan belakangan.” Vira tetap ngotot
Vira tetap kukuh dengan pendiriannya. Dia tak mau tahu dan memang tak mau tahu. Dia melapaskan ikatan perahu itu dan menaikinya.
“Kak, jangan...jangan naiki perahu itu.” Cegah gadis itu
Vira tetap tak mendengarkan gadis itu. Tak berapa lama, tiba-tiba ombak besar menghantam perahu itu. Entah apa yang terjadi selanjutnya.
ÚÚÚ
Malam tiba, bintang-bintang memancarkan keindahannya di laut. Di sebuah gubuk kecil yang tak jauh dari pantai terlihat bulan menyinarinya.
“Aku dimana...?” Vira kemudian tersadar
“Tenang Vir, sekarang kammu ada di rumah Bira.” Rima mencoba menenangkan
Vira kemudian bangun dari tempat tidurnya dan menatap gadis yang ada di depannya.
“Kamu...” Dengan suara lemas
“Iya Vir, dia yang menyelamatkan kamu.” Kata Rima
Vira kemudian mendekati gadis itu dan berlari keluar dari gubuk kecil itu dengan membisu. Rima dan gadis kecil itu mengikuti dari belakang. Vira duduk di atas batu besar dan menghadap ke laut. Gadis itu mendekati Vira. Vira mendekati gadis itu dengan tatapan tajam. Bira menunduk, tak berani menatap.
“Kok bisa sih gadis sekecil kamu bisa menyelamtkan saya, bagaimana caranya. Menatap saya saja kamu takut apalagi sama ombak” Tanya Vira tak percaya
Bira kemudian memberanikan diri untuk menatap Vira.
“Dari kecil aku sudah terbiasa hidup di laut. Jadi ini sudah menjadi hal yang biasa buatku. Aku lahir di tempat ini, makanya ayah dan ibu memberikan aku nama Bira.” Jelas Bira
Vira termenung dan menyadari kesalahannya.
“Tapi kenapa kamu mengikuti aku terus.” Tanya Vira dengan terbata-bata
“Karena aku tidak mau kakak jadi korban perahu itu, karena aku tahu kakak pasti akan naik perahu itu. Gara-gara perahu itu ayah dan ibu pergi untuk selama-lamanya.” Jawab Bira dengan air mata yang menetes di pipinya. Vira dan Bira menangis dan berpelukan. Suara tangis mereka menyatu dengan gelap malam. Pelukan Vira semakin erat.
“Maafkan kakak ya...! Vira menatap Bira dengan mata berkaca-kaca sambil memegang kepala Bira dengan kedua tangannya dan kembali memeluk Bira. Vira sangat kagum melihat ketegaran Bira yang sanggup hidup di pantai dengan mempertaruhkan nyawanya dan selalu siap akan resiko yang harus dia hadapi bila sewaktu-waktu ombak menghantam. Kekejaman ombak sudah Bira rasakan, dia hanya bisa berdoa semoga ombak bisa bersahabat dengannya.